Masyarakat bukan sekadar pengguna ruang, melainkan bagian penting dalam proses pembentukan dan pengelolaannya.

Reka ruang taktis (tactical urbanism) di area Pantai Segara Ayu, Sanur, pada Selasa (13/10/2026). - Istimewa
RUANG publik yang baik adalah ruang yang mampu mengakomodasi beragam kebutuhan masyarakat, mulai dari anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, hingga kelompok masyarakat dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda. Masyarakat dapat mengambil peran aktif dalam menciptakan ruang yang lebih terbuka, inklusif, dan mencerminkan keberagaman penggunanya.
Kebutuhan ruang publik sebagai ruang ketiga menjadi pembahasan dalam Diskusi “Publik Menata Ruang Publik” serangkaian Pekan Iklim Bali 2026 di area Pantai Segara Ayu, Sanur, pada Selasa (13/10/2026).
Masyarakat diajak untuk berpartisipasi membentuk ruang publik dengan reka ruang taktis (tactical urbanism). Transformasi ruang dengan reka ruang taktis dapat menjadi alternatif solusi yang cepat, murah, lebih mudah, dan bersifat sementara sehingga dalam prosesnya dapat dievaluasi.
Melalui pendekatan partisipatif, proses ini membuka kesempatan bagi berbagai kelompok untuk terlibat secara langsung dalam membentuk ruang publik melalui ekspresi kreatif dan kontribusi bersama, menunjukkan bahwa penataan ruang publik tidak harus selalu berlangsung melalui proses perencanaan yang formal dan eksklusif.
Area yang menjadi lokasi reka ruang taktis berada di depan Pura Dalem Segara Desa Adat Intaran dan Warung Men Weti, yang sebelumnya merupakan ruang parkir kendaraan dan kini ditata serta difungsikan menjadi zona suci dan ruang publik yang dilukis bersama.
Reka ruang taktis tidak hanya berupa pengecatan, tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan keliling dan area bermain anak. Proses pengecatan berkolaborasi dengan Seniman Slinat & Monox serta pemuda dan BUPDA Desa Adat Intaran, anak-anak, dan masyarakat yang melintas yang berminat untuk turut berkontribusi menorehkan warna.
Area tidak hanya mengalami perubahan secara visual, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkolaborasi dan menyampaikan gagasan mengenai ruang yang mereka inginkan lewat partisipasi bermakna. Hasil dari reka teknis ini bisa dievaluasi setelah berjalan beberapa bulan sebagai bagian proses pengujian.
Deputy Director ITDP Deliani Poetriayu Siregar mengatakan intervensi ruang jalan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan aktivitas. “Intervensi lebih ke ruang jalan akan berpengaruh pada aspek keselamatan. Reka jalan “share street” akan memberi ruang yang lebih lega, utamanya bagi anak-anak,” ungkapnya.
Pada dasarnya, tactical urbanism merupakan pendekatan untuk menguji desain dan pemanfaatan ruang secara temporer sebelum diterapkan secara permanen.
Deliani mengingatkan penerapan tactical urbanism juga dapat menjadi tantangan apabila belum disertai dengan indikator pemantauan dan evaluasi yang jelas. Oleh karena itu, perlu ditetapkan mekanisme evaluasi berkala, misalnya setelah tiga bulan implementasi, untuk meninjau efektivitas intervensi, mengidentifikasi aspek yang perlu disesuaikan, serta memperjelas pembagian peran dan tanggung jawab setiap pihak yang terlibat.
Pendekatan Publik Menata Ruang Publik menegaskan bahwa masyarakat bukan sekadar pengguna ruang, melainkan bagian penting dalam proses pembentukan dan pengelolaannya.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kota Denpasar, Ida Ayu Trisuci Arnawati, mengapresiasi kegiatan dengan kreativitas pengecatan area publik di Pantai Segara Ayu.
“Intervensi reka ruang taktis (tactical urbanism) ini tentu memungkinkan secara temporer seperti yang sudah dilakukan, dapat dikolaborasikan (dengan desa adat) juga dengan pemerintah daerah. Untuk memastikan pelaksanaannya memiliki landasan yang jelas dan terdokumentasi secara resmi, diperlukan penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan pemerintah daerah,” ungkapnya.




Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.
© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.