Kacatri: Jejak Rerajahan dalam Karya Wiradana di Santrian Art Gallery

Tarik menarik di antara profesi sebagai pemangku dan seniman menghasilkan kreativitas baru dalam diri seorang Wiradana.

By Manah Bali
| July 11, 2026

Seniman Made Wiradana berpameran di Santrian Art Gallery Sanur, Denpasar, pada 10 Juli - 30 Agustus 2026. - Manah Bali

MADE Wiradana tak pernah terbersit sebelumnya menjalani hidup dengan menjadi seorang pemangku. Kini, kesehariannya sebagai rohaniawan telah banyak berpengaruh pada karya-karya lukis terbarunya.

Pameran 20 karya seniman berusia 57 tahun itu dibuka Prof I Made Bandem di Santrian Art Gallery, Sanur, pada Jumat (10/7/2026) malam. Wiradana sebelumnya dikenal sebagai seniman dengan aliran simbolik primitif yang kental bermula pengalaman kuliah dan berkesenian di ISI Jogja hingga pulang berkarier di tanah kelahirannya Bali.

Perjalanan hidup membawanya terpilih menjadi pemangku Pura Taman Sari di tempat kelahirannya, Banjar Tatasan Kelod, Desa Tonja, Denpasar. Wiradana “kacatri”, atau terpilih, yang juga menjadi judul pameran tunggalnya yang keduabelas ini.

Kakek Wiradana merupakan pemangku di Pura Taman Sari, namun ayah Wiradana tidak melanjutkan swadharma tersebut sampai meninggal dunia. Kekosongan pemangku di pura juga belum sanggup dilanjutkan kedua kakak Wiradana.

“Saya dicari sama kakek dalam mimpi, kamu yang harus melanjutkan ayah-ayahan di Pura Taman Sari,” kata Wiradana ditemui di sela pembukaan pameran.

Dua tahun setelah didiksa menjadi pemangku, Wiradana banyak bergelut dengan kajian-kajian agama dan praktik spiritual Bali. Di sisi lain profesi seniman juga tidak pernah dia tinggalkan sepenuhnya. Tanpa sadar fase baru berkesenian pada akhirnya terejawantahkan ke dalam karya-karya lukis penuh makna di Santrian Art Gallery.

“Inspirasinya saya ambil dari sana, bentuknya ada ke arah rerajahan,” ungkapnya.

Transformasi menuju kreativitas baru

Sebelum menjalankan swadharma sebagai pemangku, karya-karya Wiradana telah dikenal melalui kekuatan garis-garisnya yang mengalir spontan, dan intuitif. Figur-figur naif yang lahir dari guratan tangannya menghadirkan tilas rupa yang khas, sesekali mengingatkan pada figur-figur purbawi yang hidup di antara ingatan, mitos, dan imajinasi.

Transformasi tampak ketika figur-figur dalam karya-karya mutakhirnya yang mulai berkelindan dengan idiom visual rerajahan, sementara guratan-guratan - garis menyerupai aksara suci memenuhi bidang kanvas. Pada beberapa karya, komposisi juga memperlihatkan kecenderungan mandalik: ada yang memusat, ada pula yang menyebar secara asimetris namun tetap membangun harmoni.

“Yang berubah bukan gaya visualnya melainkan sumber pengalaman yang menghidupi gaya dan bahasa visualnya tersebut,” sebut kurator pameran I Made Susanta Dwitanaya.

Perubahan artistik seorang Wiradana dimulai ketika ritme kesehariannya dipenuhi oleh praktik-praktik kepemangkuan. Hari-harinya tidak lagi sepenuhnya diisi oleh kanvas, cat, dan kuas sebagai pelukis. Ketika berbusana sebagai pemangku, Wiradana memimpin ritual, menggambar rerajahan, menulis aksara suci, menyiapkan berbagai sarana upacara, menghaturkan persembahan, dan menjalankan berbagai bentuk ngayah atau pengabdian sebagai bagian dari swadharma seorang pemangku.

Swadharma baru tidak bisa dipungkiri membentuk kesadaran baru seorang Wiradharma hingga ke atas kanvas saat melukis. Profesi baru sebagai pemangku mengharuskan Wiradana mempelajari jnana atau pengetahuan religius Bali.

“Tidak boleh marah, kama, loba, mabuk, dan Sad Ripu lainnya” kata Prof Made Bandem yang sudah tiga kali membuka pameran tunggal Wiradana.

Prof Bandem menyebut tarik menarik di antara profesi sebagai pemangku dan seniman menghasilkan kreativitas baru dalam diri seorang Wiradana. Berbeda dengan seniman Bali di masa lalu yang membuat karya rerajahan sebagai bagian dari ritual keagamaan, karya-karya Wiradana tidak didominasi gambar rerajahan ataupun seni primitif yang sebelumnya melekat pada diri Wiradana.

“Sekarang bagaimana dengan seni kontemporer yang sekuler? Di situ tarik menariknya antara sakral dan profan bisa nggak tumbuh sesuatu yang baru.”

Artikel lainnya

Transform Your Space with Perfect Curtains

Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.

[njwa_button id="1161"]
Social Media

© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.

menucross-circle