Mengadvokasi dan melawan stigma yang selama ini membuat banyak dari mereka terpinggirkan dan tidak terlihat di tengah masyarakat.

Salah satu karya fotografer Rudi Waisnawa yang memotret kehidupan ODGJ di Bali. - Istimewa
MENGHABISKAN 12 tahun mendampingi dan mendokumentasikan kehidupan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), fotografer Bali Rudi Waisnawa meraih penghargaan FOTO Bali Award 2026. Penghargaan diinisiasi oleh FOTO Bali Festival dipersembahkan oleh Nuanu Social Fund (NSF).
Sejak 2014 fotografer bernama asli I Kadek Rodi Artawan telah mendokumentasikan kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental di Bali. Melalui fotografi, ia berupaya mengadvokasi dan melawan stigma yang selama ini membuat banyak dari mereka terpinggirkan dan tidak terlihat di tengah masyarakat. Proyek tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah buku fotografi yang dikerjakan bersama Nicky Hogan, berjudul “Hope and Freedom”.
“Saya berharap penghargaan ini dapat membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk melihat dan memahami kehidupan orang dengan kondisi kesehatan mental, yang kisah-kisahnya layak didengar dan dihargai dengan penuh martabat,” ujar Rudi.
Rudi menyabet penghargaan bersama fotografer dokumenter Irene Barlian yang berhasil merekam perubahan hidup masyarakat di berbagai wilayah Indonesia akibat perubahan iklim. Rudi dan Irene menjadi dua penerima dari hampir 100 pendaftaran. Mereka pun masing-masing menerima dukungan sebesar Rp22 juta untuk keberlanjutan praktik fotografi mereka.
“Tahun ini, festival kami mengangkat pertanyaan tentang apa yang tersisa setelah sebuah gambar tercipta. Bagi fotografer seperti Rudi dan Irene, yang tersisa adalah kerja panjang selama bertahun-tahun yang kerap luput dari perhatian dan jarang mendapatkan dukungan finansial yang sepadan,” ujar Kelsang Dolma, Founding Director FOTO Bali Award dan FOTO Bali Festival.
“Melalui penghargaan ini, kami ingin memberikan apresiasi terhadap dedikasi tersebut sebagaimana adanya, tanpa mengharuskan seniman menjadi pengelola proyek untuk bisa mendapatkan dukungan.”
Berbeda dengan skema pendanaan berbasis proyek, FOTO Bali Award oleh Nuanu Social Fund memberikan dukungan finansial yang dapat dimanfaatkan penerima untuk melanjutkan praktik fotografi mereka, tanpa kewajiban untuk menghasilkan proyek baru.
“Nuanu Social Fund dibangun dengan berlandaskan kepedulian terhadap manusia dan alam. Kedua karya ini berada tepat di persimpangan tersebut. Yang satu mengangkat bagaimana kita memperlakukan kelompok rentan di tengah masyarakat, sementara yang lainnya memperlihatkan perubahan yang sedang terjadi pada daratan dan lautan tempat kita semua bergantung,” ujar Ida Ayu Astari Prada, Head of Nuanu Social Fund.
“Para fotografer yang secara konsisten mendalami isu-isu ini selama bertahun-tahun sesungguhnya juga sedang melakukan kerja sosial. Mendukung mereka merupakan bagian penting dari alasan Nuanu Social Fund hadir, dan komitmen ini akan terus kami jaga.”
FOTO Bali Award terdiri dari dua kategori (Karya yang Berakar pada dan Didedikasikan untuk Bali dan Karya yang Mengangkat Realitas Indonesia di Luar Bali) dengan bobot penilaian yang setara. Para penerima penghargaan dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari Ng Swan Ti, Managing Director PannaFoto Institute, Dr. Wiyu Wahono, kolektor seni kontemporer Indonesia, serta I Made Bayu Pramana, fotografer dan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.
Proses penjurian dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan artistik, pendekatan visual, kedalaman konsep, serta koherensi narasi dari setiap karya yang diajukan.
“Penghargaan seperti FOTO Bali Award memberikan pengakuan terhadap praktik fotografi yang dibangun melalui komitmen jangka panjang. Dukungan langsung dari sebuah festival juga membuka lebih banyak kesempatan bagi para fotografer untuk terus berkembang,” ujar Ng Swan Ti.
“Seni memiliki kemampuan untuk merefleksikan realitas pada zamannya. Melalui kedua karya ini, kita dapat melihat bagaimana fotografi tidak hanya menjadi medium untuk merekam peristiwa, tetapi juga membuka ruang bagi kita untuk memahami lebih dalam berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi di sekitar kita. Keduanya menghadirkan perspektif yang penting untuk menjadi bagian dari ingatan dan pemahaman kolektif masyarakat,” ujar Dr. Wiyu Wahono.
“Fotografi memiliki peran penting dalam membentuk cara masyarakat mengingat, memahami, dan merefleksikan pengalaman mereka. Praktik fotografi seperti ini menunjukkan relevansi fotografi yang terus bertahan dalam mendokumentasikan sekaligus memaknai berbagai realitas kehidupan di Indonesia saat ini,” ujar I Made Bayu Pramana.
Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.
© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.