Seni kerap mampu menjembatani perbedaan ketika sekat-sekat budaya justru gagal mempertemukan manusia.

Pentas Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS) Singapadu di Bengaluru, Negara Bagian Karnataka, India. - Istimewa
KESENIAN Bali kembali membuktikan kemampuannya menembus batas negara. Bukan sekadar tampil membawa tradisi, rombongan Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS) Singapadu justru menciptakan dialog budaya dengan seniman India melalui kolaborasi wayang dan tari yang untuk pertama kalinya dipentaskan di Bengaluru, Negara Bagian Karnataka, India.
Selama hampir tiga pekan, rombongan beranggotakan 25 seniman yang dipimpin Prof. Dr. I Wayan Dibia sukses memperkenalkan beragam kesenian Bali dalam festival bertajuk “Bali in Bengaluru”. Mereka bertolak dari Bali pada 30 September 2026 atas undangan Param Foundation.
Festival yang didukung Kementerian Kebudayaan Negara Bagian Karnataka ini menjadi ruang perjumpaan dua tradisi besar. Namun, yang paling menarik bukan semata-mata pertunjukan seni Bali di hadapan masyarakat India, melainkan lahirnya dua karya kolaborasi yang mempertemukan wayang kulit Bali dengan wayang boneka India serta tari Bali dengan tari klasik Yakshagana.
Bagi Dibia, perjumpaan tersebut menjadi pengalaman penting dalam memperlihatkan bahwa seni tradisi tidak harus berhenti pada batas identitas daerah atau negara. Tradisi justru dapat berkembang ketika bertemu, berdialog, dan saling memberi ruang dengan kebudayaan lain.
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah kolaborasi wayang Bali dengan wayang boneka (string puppet) India. Pertunjukan ini mempertemukan dua bentuk seni pewayangan dalam satu alur cerita, yakni Arjuna Tapa yang bersumber dari kisah Mahabharata.
Pertunjukan dibuka dengan wayang boneka India yang menggambarkan suasana Shiwaloka. Dewa Siwa dikisahkan hendak turun ke Gunung Indrakila untuk menguji keteguhan iman Arjuna.
Selanjutnya, perjalanan Arjuna menjalani tapa di Gunung Indrakila hingga memperoleh anugerah senjata panah Pasupati dari Dewa Siwa disajikan melalui wayang kulit Bali.
Menariknya, bagian penutup kembali menggunakan wayang boneka India. Adegan tersebut menggambarkan keampuhan senjata Pasupati yang digunakan Arjuna untuk membunuh Jayadrata dalam perang Bharatayudha.
Dua tradisi pewayangan berbeda itu tidak sekadar tampil bergantian. Keduanya dirangkai menjadi satu kesatuan cerita sehingga penonton dapat menyaksikan bagaimana kekayaan ekspresi seni Bali dan India saling melengkapi.
Eksplorasi budaya juga berlangsung melalui kolaborasi tari Bali dengan Yakshagana, seni pertunjukan klasik dari Karnataka, India.
Mengambil sumber cerita Ramayana, khususnya Araniya Kandha, Sundara Kandha, dan Yudha Kanda, garapan ini memadukan unsur sendratari dan Kecak Bali dengan karakteristik pertunjukan Yakshagana.
Adegan dimulai dengan Dewi Sita yang menunggu seorang diri di dalam lingkaran api setelah Rama dan Laksmana meninggalkannya untuk mengejar kijang emas ke dalam hutan. Tak lama kemudian, Rahwana datang untuk menculik Sita. Tokoh Rahwana dalam bagian tersebut diperankan melalui karakter seni Yakshagana.
Kemunculan burung Jatayu juga dihadirkan dengan gaya tari Yakshagana. Sementara itu, Rama, Laksmana, Hanuman, Trijata, dan Rahwana pada bagian Kecak ditampilkan melalui ekspresi tari Bali.
Memasuki bagian Yudha Kanda, Rahwana dan pasukan kera diperankan dengan gaya Yakshagana, sedangkan tokoh-tokoh dari pihak Rama tetap menggunakan ekspresi tari Bali.
Perpaduan dua tradisi ini menghadirkan pengalaman panggung yang berbeda. Gerak, karakter, kostum, dan ekspresi khas masing-masing seni bertemu dalam satu cerita yang sudah dikenal masyarakat India maupun Bali.
Sambutan penonton pun luar biasa. Seusai pertunjukan, tepuk tangan bergemuruh mengiringi para seniman. Sejumlah pengamat dan pencinta seni bahkan menyampaikan kekaguman terhadap dialog artistik yang terbangun antara tari Bali dan Yakshagana.
Banyak pula yang penasaran dengan proses penyatuan kedua tradisi tersebut, mengingat pertemuan seni tari Bali dan Yakshagana dalam satu panggung merupakan pengalaman baru bagi masyarakat Bengaluru.
Di luar karya kolaborasi, GEOKS Singapadu juga membawa beragam repertoar seni Bali. Mulai dari gamelan Bali dengan perangkat mini yang dimainkan 12 penabuh, tari klasik dan kreasi baru, wayang kulit, hingga Kecak.
Pertunjukan dibuka dengan komposisi Awignamastu, karya I Wayan Dibia tahun 2024, yang memadukan gamelan dan tembang dengan nuansa gegitaan yang populer pada era 1970-an.
Selanjutnya ditampilkan tari pembukaan Pranamya karya Dibia (2024), Tari Taruna Jaya karya maestro I Gede Manik, serta Jauk Legodbawa karya Dibia (2017).
Sebagai sajian pamungkas, rombongan menampilkan Kecak garapan baru karya Dibia tahun 2024 dengan lakon Hanuman Duta.
Sementara itu, pertunjukan wayang kulit mengangkat lakon Arjuna Tapa dari Wana Parwa dalam kisah Mahabharata. Sajian menggunakan wayang parwa gaya Karangasem dengan perangkat sederhana dan iringan sepasang gender wayang. Pertunjukan ini dibawakan dalang Ida Wayan Pangsua Dharma, S.Sn., M.Sn., dari Besang, Abang.
Pementasan pembuka di Orion Mall, Bengaluru, yang menampilkan Kecak Hanuman Duta mendapat perhatian besar masyarakat setempat.
Respons positif juga datang dari Shailaja Tripathi melalui ulasannya di The Hindu.com. Ia menyoroti bagaimana Kecak Bali menghadirkan suara dan perspektif berbeda terhadap kisah Ramayana dibandingkan versi yang selama ini dikenal luas di India.
Dalam ulasannya, Shailaja menyampaikan bahwa pertunjukan tersebut menjadi pengingat bahwa seni kerap mampu menjembatani perbedaan ketika sekat-sekat budaya justru gagal mempertemukan manusia.
Kehadiran GEOKS Singapadu di Bengaluru tidak berhenti pada pertunjukan. Rombongan juga menggelar berbagai lokakarya dan ceramah seni bagi perorangan maupun kelompok seni setempat.
Materi workshop meliputi Kecak, tari Bali, gamelan Bali, hingga demonstrasi pembuatan topeng yang dibawakan Dr. Cokorda Alit Artawan, S.Sn., M.Sn.
Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat dan komunitas seni India untuk mengenal lebih dekat proses kreatif, teknik, serta nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian Bali.
Festival “Bali in Bengaluru” sendiri merupakan program perdana Param Foundation, organisasi nirlaba yang berfokus pada pengembangan ekosistem transdisipliner melalui perpaduan sains, inovasi, sejarah, dan kebudayaan India dengan pendekatan pembelajaran eksperiensial.
Bagi GEOKS Singapadu, perjalanan hampir tiga pekan tersebut bukan sekadar lawatan kesenian ke luar negeri. Ada pengalaman, pertukaran pengetahuan, dan karya baru yang lahir dari pertemuan dua kebudayaan.
Kepulangan 25 seniman itu membawa lebih dari sekadar keberhasilan pementasan. Mereka meninggalkan jejak perjumpaan budaya yang memperlihatkan bahwa seni Bali memiliki ruang untuk tumbuh di panggung dunia.
Dari Singapadu ke Bengaluru, gamelan, Kecak, wayang, dan tari Bali telah menjadi bahasa persahabatan. Sebuah bukti bahwa warisan tradisi tidak hanya layak dipertahankan, tetapi juga terus dikembangkan melalui dialog kreatif lintas budaya.




Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.
© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.