Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Bencana

Bencana boleh berulang, tetapi dampaknya tidak seharusnya berulang dengan skala yang sama.

Agus Wibowo
| September 30, 2026

Oleh: Dr. Agus Wibowo

Bencana mempunyai ingatan. Sungai dapat kembali meluap pada jalur yang sama. Lereng dapat kembali longsor. Gunung api dapat kembali meletus setelah puluhan bahkan ratusan tahun tertidur. Gempa dan tsunami pun dapat kembali mendatangi kawasan yang pernah mengalaminya. Persoalannya, manusialah yang sering lupa.

Ungkapan Bung Karno, Jasmerah-Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, sangat relevan untuk penanggulangan bencana. Sejarah kebencanaan bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah sumber pengetahuan tentang apa yang mungkin terjadi kembali. Karena itu, sejarah bencana seharusnya dibaca sebagai bagian dari mitigasi.

Bencana Itu Berulang

Indonesia menyediakan banyak bukti tentang pola keberulangan bencana. Tsunami besar Aceh pada 26 Desember 2004 bukanlah tsunami pertama di kawasan tersebut. Di Pulau Simeulue, ingatan tentang tsunami 1907 diwariskan antargenerasi melalui pengetahuan lokal yang dikenal sebagai smong. Ketika gempa kuat terjadi dan air laut surut pada 2004, sebagian masyarakat mengenali tanda itu dan segera menuju tempat tinggi. Memori menyelamatkan nyawa.

Flores juga mempunyai sejarah panjang kegempaan dan tsunami. Gempa dan tsunami 12 Desember 1992 menjadi salah satu bencana besar di kawasan tersebut. Pengalaman itu seharusnya tetap menjadi bagian dari memori risiko masyarakat Nusa Tenggara Timur ketika menghadapi gempa pada generasi berikutnya.

Demikian pula banjir, banjir bandang-atau galodo sebagaimana dikenal di Sumatera Barat-dan longsor. Sungai yang meluap hari ini mungkin pernah menimbulkan bencana puluhan tahun sebelumnya. Material di hulu, perubahan tutupan lahan, penyempitan alur, sedimentasi, serta meningkatnya paparan permukiman dapat mengubah hujan lebat menjadi bencana. Pertanyaannya bukan hanya: mengapa bencana terjadi? Tetapi juga: apakah kejadian serupa pernah terjadi di tempat yang sama, dan apa yang sudah kita pelajari darinya?

Belajar dari Jejak Bencana

Semasa memimpin BNPB, Doni Monardo berulang kali mengingatkan pentingnya memahami sejarah dan karakter ancaman suatu wilayah. Kejadian masa lalu meninggalkan jejak: catatan sejarah, endapan tsunami, jalur aliran material, bekas longsoran, perubahan bentang alam, cerita masyarakat, hingga ingatan kolektif yang diwariskan antargenerasi.

Pengetahuan itu tidak boleh berhenti sebagai dokumentasi. Ketika sebuah generasi tidak lagi mengetahui bahwa daerah tempat tinggalnya pernah diterjang tsunami, banjir besar, longsor, atau letusan gunung api, kewaspadaan ikut berkurang. Mengetahui apa yang pernah terjadi membantu kita mengenali apa yang mungkin terjadi kembali.

Pembangunan dapat bergerak lebih cepat daripada ingatan manusia. Permukiman tumbuh, infrastruktur dibangun, penduduk berganti, dan generasi baru lahir. Tetapi ancaman alam tetap berada di tempatnya.

Siklus Bencana Itu Berulang

Pesan tersebut berlanjut pada masa kepemimpinan Kepala BNPB Suharyanto. Dalam kegiatan kesiapsiagaan masyarakat di pesisir selatan Yogyakarta, ia mengingatkan, “Siklus bencana itu berulang.” Tsunami Aceh digunakan sebagai contoh bahwa kejadian serupa pernah terjadi pada masa sebelumnya. Tidak terjadinya bencana besar dalam waktu lama bukan berarti ancamannya hilang. Justru rentang waktu yang panjang dapat melahirkan persoalan baru: hilangnya memori risiko.

Dalam Hari Kesiapsiagaan Bencana 2023, Suharyanto kembali menekankan bahwa bencana merupakan peristiwa berulang sehingga pencegahan dan kesiapsiagaan menjadi penting serta membutuhkan keterlibatan seluruh komponen masyarakat. Setelah banjir dan longsor di Manado pada Januari 2023, ia mengingatkan bahwa banjir di kota itu bukan baru sekali terjadi.

Pertanyaan “Mengapa kejadian ini terulang lagi?” patut diajukan setiap pemerintah daerah setelah menghadapi bencana. Setelah tanggap darurat selesai, pembelajaran harus dimulai: apa penyebabnya, apakah lokasi yang sama pernah terdampak, apakah alur sungai telah diperiksa, apakah tata ruang memperhitungkan sejarah kejadian, apakah sistem peringatan dini bekerja, dan apakah masyarakat mengetahui ke mana harus menyelamatkan diri?

Suharyanto menekankan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi seharusnya menjadi awal mitigasi terhadap bencana berikutnya agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan dampak besar.

Bencana Boleh Berulang, Dampaknya Harus Berkurang

Di sinilah pesan Doni Monardo dan Suharyanto bertemu. Doni mengingatkan pentingnya membaca jejak dan sejarah bencana. Suharyanto menegaskan bahwa karena bencana dapat berulang, pembelajaran dari kejadian sebelumnya harus digunakan untuk mengurangi dampak berikutnya.

Dari pemikiran itu kita dapat menarik satu prinsip: bencana boleh berulang, tetapi dampaknya tidak seharusnya berulang dengan skala yang sama. Gempa bumi tidak dapat dihentikan. Gunung api tidak dapat diperintahkan berhenti meletus. Hujan ekstrem tidak selalu dapat dicegah. Tetapi korban, kerusakan, dan kerugian akibat kejadian berikutnya seharusnya dapat dikurangi.

Jika sebuah sungai menimbulkan banjir bandang berulang kali dan setiap kejadian menghasilkan pola kerusakan yang sama, pertanyaannya bukan hanya mengenai besarnya hujan, tetapi juga: apa yang tidak kita pelajari dari kejadian sebelumnya?

Dari Arsip Menjadi Kebijakan

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan pengalaman bencana. Kita mempunyai pengalaman tsunami, gempa bumi, erupsi gunung api, banjir, banjir bandang, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga bencana nonalam. Tantangannya adalah apakah pengalaman itu terdokumentasi, dapat ditemukan kembali, dipelajari, dan-yang terpenting-mengubah keputusan pembangunan.

BNPB telah memiliki dan mengembangkan berbagai instrumen data dan pengetahuan kebencanaan, termasuk Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Portal Literasi Sejarah Bencana, dan Disaster Knowledge Management System (DKMS). Ketiganya dapat dipandang sebagai bagian dari rantai pengetahuan: data memberi tahu kita apa yang terjadi; sejarah membantu menjelaskan apa yang pernah terjadi; pengetahuan membantu menentukan apa yang harus dilakukan agar dampaknya tidak terulang. Catatan banjir, foto tsunami, laporan erupsi, peta bekas aliran banjir bandang, cerita masyarakat, laporan operasi darurat, hingga evaluasi rehabilitasi dan rekonstruksi bukan sekadar koleksi arsip. Semuanya adalah pengetahuan risiko.

Tantangan berikutnya adalah membawa pengetahuan itu ke dalam pembangunan. Riwayat banjir perlu dibaca ketika menyusun tata ruang. Jejak tsunami perlu diperhatikan ketika menentukan lokasi permukiman dan fasilitas publik. Sejarah longsor perlu menjadi pertimbangan ketika membuka jalan atau kawasan baru. Riwayat banjir bandang perlu menjadi dasar pemeriksaan sungai dan daerah tangkapan air sebelum musim hujan. Dengan demikian, sejarah tidak berhenti di perpustakaan atau server. Ia hadir dalam RTRW, kajian risiko bencana, rencana penanggulangan bencana, rencana kontinjensi, sistem peringatan dini, standar bangunan, pendidikan masyarakat, dan keputusan investasi pembangunan. Inilah perubahan terpenting: dari arsip menjadi kebijakan.

Jasmerah Kebencanaan

Setiap kali bencana besar terjadi, perhatian publik meningkat. Posko didirikan, bantuan berdatangan, alat berat bekerja, media memberitakan, dan berbagai sumber daya dikerahkan. Beberapa minggu atau bulan kemudian, perhatian berkurang. Di sinilah muncul siklus yang lebih berbahaya: bencana selesai, kemudian ingatan ikut selesai. Padahal setelah operasi darurat berakhir, proses pembelajaran justru harus dimulai. Apa yang terjadi? Mengapa terjadi? Apakah pernah terjadi sebelumnya? Apa yang gagal, apa yang berhasil, dan apa yang harus diperbaiki sebelum ancaman berikutnya datang? Jawaban atas pertanyaan itu harus menjadi pengetahuan kelembagaan sekaligus pengetahuan masyarakat.

Rantai pembelajarannya sederhana: SEJARAH → INGAT → BELAJAR → MITIGASI → DAMPAK LEBIH KECIL

Indonesia mungkin tidak dapat menghentikan gempa bumi, erupsi gunung api, atau hujan ekstrem. Tetapi kita dapat menentukan apakah ancaman yang sama kembali menghasilkan tragedi dengan skala yang sama. Pesan Doni Monardo tentang pentingnya memahami jejak bencana dan pesan Suharyanto bahwa “siklus bencana itu berulang” menuju tujuan yang sama: jangan kehilangan pembelajaran dari bencana yang telah kita alami. Sebab sejarah bencana bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia adalah peringatan bagi masa depan.
Jasmerah kebencanaan: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah bencana. Sebab ketika sejarah dilupakan, risiko lama dapat kembali menjadi bencana baru.

Penulis Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB

Artikel lainnya

Transform Your Space with Perfect Curtains

Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.

[njwa_button id="1161"]
Social Media

© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.

menucross-circle