Art Brut Handy Saputra Dipamerkan di Santrian Art Gallery Sanur

Seniman yang juga pengusaha menampilkan ekspresi yang liar, naluriah, dan tanpa hambatan.

By Manah Bali
| November 7, 2026

Pameran bertajuk “Dialog Between the Moon and It’s Halo” berlangsung di Santrian Art Gallery, Sanur, pada 6 November sampai 31 Desember 2026. - Manah Bali

Seniman kontemporer Bali Handy Saputra menggelar pameran tunggal ketiganya di Santrian Art Gallery Sanur, Denpasar, pada 6 November sampai 31 Desember 2026. Bertajuk “Dialog Between the Moon and It’s Halo” (Cengkerama Sang Bulan Dengan Sinar Sekelilingnya), Handy membawa 23 karya lukis dan 2 seni patung.

Karya-karya Handy bercirikan art brut (seni mentah). Seniman yang juga pengusaha menampilkan ekspresi yang liar, naluriah, dan tanpa hambatan sehingga merefleksikan kejujuran, tanpa pretensi atau sekatan-sekatan teknik akademis.

Karena itu juga Handy tidak pernah mendefinisikan dirinya ke dalam salah satu aliran seni dan lebih memilih fokus mengekspresikan dirinya. “Itulah karya saya, mungkin banyak yang mengklasifikasikan outsider, art brut, silakan saja,” ujar Handy saat pembukaan pameran, Jumat (6/11/2026) malam.

Dalam proses kreatifnya, seniman 63 tahun telah bermetamorfosis dari berupaya melakukan sebuah pencarian kreatif yang personal, menuju sebuah penemuan jati diri kreatif yang lebih terbuka pada fenomena-fenomena yang terjadi di sekelilingnya.

Kurator Muhammad Bundhowi mengatakan dari dua pameran Handy sebelumnya, yakni “The Audacity of Silent Brush” dan “The Dragonfly's Ripples” kita bisa melihat sebuah lompatan-lompatan progresif dan kualitatif.

Dalam The Audacity of Silent Brush, Handy baru menemukan oase kreatif penuh dengan temuan-temuan interpretasi visual yang amat personal. Kemudian, The Dragonfly's Ripples merupakan ekstensi dari temuan-temuan interpretasi visual yang amat personal tersebut telah bermetamorfosis menjadi pijakan kreatif yang lebih kokoh.

“Di sini Handy menemukan karya-karyanya telah diterima lebih luas dan mulai mengundang berbagai pandangan dan dampak yang beragam seperti yang beredar dalam berbagai media massa,” sebut Bundhowi.

Pada pameran kali ini Handy mengajak untuk lebih keluar, mengamati fenomena-fenomena yang terjadi dalam ranah-ranah filosofis, politis maupun psikologis.

Karya “Two Men and A Dog”, misalnya, memaparkan kita pada sebuah situasi psikologis hasil dari kehidupan sosial yang sunyi. Patung porselin Handy berjudul “The Weigh of the Bird” dan “The Vigil of Crimson Spirit” mengajak kita untuk lebih berpikir kontemplatif dan filosofis tentang peranan pikiran (kesadaran) kita yang disimbolkannya dalam bentuk seekor burung yang seharusnya menjadi simbol dari kebebasan dan kesadaran jiwa.

Salah satu metode yang mungkin bisa membantu kita untuk memahami karya-karya Handy Saputra adalah dengan mengendarai biduk imajinasi kita melayang mengawang-awang di langit dan menyaksikan keindahan bulan dengan kemudahannya dan bercengkarama dengan manusia-manusia tanpa gender, makhluk-makhluk anononimus, benda, topeng-topeng magis dan pernik-pernik lainnya yang bisa ditemukan dalam karya-karya kontemporer Handy Saputra kali ini.

Artikel lainnya

Transform Your Space with Perfect Curtains

Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.

[njwa_button id="1161"]
Social Media

© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.

menucross-circle