Sektor Pertanian Topang Ketahanan Ekonomi Bali

Ketergantungan berlebih pada sektor pariwisata dapat diminimalkan ketika sektor riil berbasis pedesaan tumbuh kuat.

By Manah Bali
| August 10, 2026

Oleh Prof Gede Sedana

BPS Bali telah merilis bahwa pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di Provinsi Bali mencapai 6,35 persen (y-on-y) pada Triwulan II 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat bahwa angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi total Provinsi Bali yang berada di kisaran 5,78 persen. Kondisi ini menunjukan suatu capaian yang sangat positif bagi perekonomian daerah.

Kontribusi dan posisi sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar kedua, di mana besaran kontribusi Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali mencapai angka 12,85 persen. Posisi tersebut masih berada di bawah sektor akomodasi dan makan-minum yang besarnya 21,91 persen.

Walaupun sektor pariwisata (penyediaan akomodasi dan makan-minum) memberikan kontribusi dengan porsi terbesar, namun pertumbuhannya melambat ke angka 3,68 persen. Pertumbuhan sektor pertanian yang besarnya 6,35 persen menjadi salah satu motor penggerak utama yang menjaga ketahanan ekonomi daerah.

Peningkatan pertumbuhan yang signifikan pada sektor pertanian tersebut didorong oleh peningkatan performa di berbagai lini, seperti subsektor Tanaman Pangan dan Padi. Kenaikan produksi padi di Bali tumbuh secara nyata yang besarnya adalah 5,12 persen. Kondisi ini didukung oleh perbaikan dan peningkatan kualitas teknologi budidaya pertanian, cuaca yang kondusif, serta optimalisasi pemanfaatan jaringan irigasi dan pemanfaatan air irigasi melalui sistem irigasi subak.

Sementara itu, komoditas hortikultura juga mengalami peningkatan produksi dan permintaan produk lokal seperti buah-buahan, sayuran, dan tanaman hias—baik untuk kebutuhan domestik, industri kuliner, maupun rantai pasok pariwisata.

Pada sub sektor peternakan, terjadi kenaikan produksi daging terutama dari ternak sapi dan ayam, serta telur seiring dengan semakin stabilnya pasokan pakan ternak dan meningkatnya permintaan untuk konsumsi domestik. Pada subsektor perikanan, mengalami kenaikan produksi tangkapan laut dan perikanan budidaya dan didukung oleh teknologi budidaya perikanan darat/pesisir, hilirisasi dan kondisi cuaca perairan yang kondusif serta optimalisasi penyerapan pasar domestik.

Kondisi pertumbuhan di atas memberikan implikasi strategis bagi perekonomian Bali, seperti pemerataan dan diversifikasi ekonomi. Capaian ini memperlihatkan pemulihan struktur ekonomi Bali yang lebih seimbang. Ketergantungan berlebih pada sektor pariwisata dapat diminimalkan ketika sektor riil berbasis pedesaan tumbuh kuat. Selain itu, sektor pertanian menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar di kawasan pedesaan, sehingga pertumbuhan 6,35 persen ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan masyarakat bawah. Ini berarti bahwa telah terjadi penguatan ekonomi berbasis desa.

Yang tidak kalah pentingnya adalah tingginya produksi lokal membantu menekan laju inflasi bahan makanan (volatile foods) di wilayah Bali dan memastikan rantai pasok kebutuhan pokok tetap aman. Atau dengan kata lain, ketahanan pangan lokal masih sangat kuat untuk menuju kedaulatan pangan lokal.

Pemerataan dan diversifikasi ekonomi dalam konteks pertumbuhan sektor pertanian Bali menunjukkan transformasi fundamental pada struktur perekonomian daerah. Secara historis, Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata (akomodasi dan makan-minum). Ketika sektor pertanian tumbuh kuat—seperti capaian 6,35 persen—menunjukkan diversifikasi ekonomi yang mampu membangun bantalan resiliensi (economic buffer), yaitu mengurangi kerentanan sektor tunggal (monoculture economy) di mana ketika pertanian tumbuh tinggi, struktur ekonomi tidak lagi bertumpu pada satu kaki saja.

Industri pariwisata terbukti sangat sensitif terhadap gejolak eksternal (seperti pandemi, bencana alam, atau krisis global). Selain itu pertumbuhan pertanian juga mampu menciptakan keseimbangan antarsektor. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa sektor riil non pariwisata mampu berkembang mandiri dan tidak lagi sekadar menjadi pendukung pasif, melainkan penopang utama PDRB Bali saat pertumbuhan pariwisata mengalami kontraksi atau penyesuaian.

Pemerataan dan diversifikasi yang seimbang tidak memisahkan pertanian dari pariwisata, melainkan memperkuat keterkaitan antarsektor. Integrasi hulu-hilir terlihat dari sektor pertanian lokal bertindak sebagai penyedia bahan baku (supply side) untuk kebutuhan hotel, restoran, dan katering (agrotourism dan eco-tourism) dan mewujudkan kemandirian ekonomi daerah, di mana nilai tambah hasil pertanian berputar di dalam daerah sendiri (mencegah leakage effect atau kebocoran ekonomi akibat impor bahan pangan dari luar wilayah/luar negeri).

Penulis Rektor Dwijendra University, Ketua Perhepi Bali

Artikel lainnya

Transform Your Space with Perfect Curtains

Maximize your space, with charming light and stunning curtain arches and Experience a space that provides tranquility.

[njwa_button id="1161"]
Social Media

© Copyright Manah Bali. All Rights Reserved.

menucross-circle